Semester 2 : MELANJUTKAN LANGKAH,MENEMUKAN PENGALAMAN
Hai, akhirnya aku kembali menuliskan cerita di blog ini.
Rasanya baru kemarin aku menuliskan kisah tentang awal perjalananku memasuki dunia perkuliahan. Waktu memang berjalan begitu cepat. Tanpa terasa, satu semester kembali terlewati dan kini aku berada di penghujung semester kedua. Jika semester pertama banyak kuhabiskan untuk beradaptasi, mengenal lingkungan baru, dan mencoba memahami ritme kehidupan sebagai mahasiswa, maka semester kedua justru menjadi fase ketika aku mulai menemukan arah dari perjalanan yang sedang kujalani.
Aku mulai memahami bagaimana cara belajar yang paling sesuai dengan diriku. Aku mulai terbiasa berdiskusi di kelas, menyampaikan pendapat, mengerjakan berbagai tugas kelompok, hingga mempersiapkan presentasi yang hampir selalu menjadi bagian dari setiap mata kuliah. Sebagai mahasiswa Sosiologi, aku merasa materi yang dipelajari pada semester ini semakin menarik. Banyak teori yang awalnya hanya terlihat seperti tulisan di buku, ternyata memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Hal itu membuatku mulai melihat lingkungan sekitar dengan cara yang berbeda. Setiap interaksi, kebiasaan masyarakat, hingga berbagai fenomena sosial yang sebelumnya mungkin kuanggap biasa, kini terasa memiliki makna yang lebih dalam. Aku mulai memahami bahwa ilmu yang kupelajari bukan hanya untuk menjawab soal ujian, tetapi juga menjadi cara untuk memahami kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas.
Di balik aktivitas perkuliahan yang cukup padat, semester kedua juga mempertemukanku dengan berbagai kesempatan yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan. Aku menyadari bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang hadir di ruang kelas dan memperoleh nilai yang baik. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa adalah tentang bagaimana kita mampu memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, berkembang, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kesempatan-kesempatan itulah yang membuat semester ini terasa jauh lebih berwarna.
Hari-hariku tidak hanya diisi dengan jadwal kuliah. Ada kalanya pagi dimulai dengan mengikuti perkuliahan, siang dilanjutkan dengan mengerjakan tugas kelompok atau berdiskusi bersama teman-teman, kemudian sore menghadiri rapat organisasi maupun kegiatan kepemudaan. Ketika malam tiba, sering kali waktuku kembali digunakan untuk menyelesaikan laporan, membuat bahan presentasi, membaca referensi, atau sekadar mempersiapkan diri menghadapi pertemuan kelas keesokan harinya.
Rutinitas tersebut mungkin terdengar melelahkan, tetapi justru di sanalah aku belajar mengenai arti tanggung jawab. Aku belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi. Ketika memilih untuk aktif di berbagai kegiatan, maka aku juga harus siap mengatur waktu dengan sebaik mungkin agar semua tanggung jawab tetap dapat berjalan beriringan.
Di sela-sela kesibukan itu, aku tetap menjalani pekerjaanku sebagai freelance wedding organizer. Mungkin bagi sebagian orang pekerjaan ini hanyalah pekerjaan sampingan. Namun bagiku, pekerjaan tersebut memberikan banyak pengalaman yang tidak pernah kudapatkan di ruang kelas. Aku belajar bagaimana menghadapi berbagai karakter orang, bekerja sama dengan sebuah tim, menyelesaikan masalah dalam waktu yang terbatas, hingga menjaga profesionalitas dalam setiap situasi. Setiap acara yang berhasil diselesaikan selalu mengajarkanku bahwa keberhasilan sebuah pekerjaan tidak pernah hanya bergantung pada satu orang, tetapi lahir dari kerja sama dan komunikasi yang baik.
Menjalani kuliah sambil bekerja memang bukan hal yang mudah. Ada hari ketika tugas kuliah harus segera dikumpulkan, sementara di waktu yang sama aku juga memiliki jadwal membantu jalannya sebuah acara. Ada kalanya rasa lelah datang karena aktivitas yang seolah tidak pernah berhenti. Namun aku percaya bahwa setiap pengalaman memiliki pelajaran yang berbeda. Justru melalui ritme kehidupan seperti inilah aku belajar mengatur prioritas dan menghargai waktu.
Selain menjalani perkuliahan dan pekerjaan, semester kedua juga menjadi masa ketika aku semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Aku berusaha menghadiri seminar, pelatihan, forum diskusi, maupun kegiatan kepemudaan yang menurutku mampu memberikan pengalaman baru. Bagiku, belajar tidak selalu harus dilakukan melalui buku atau ruang kelas. Terkadang, mendengarkan pengalaman orang lain justru mampu membuka cara pandang yang sebelumnya belum pernah terpikirkan.
Setiap kegiatan yang kuikuti selalu mempertemukanku dengan orang-orang baru. Ada mahasiswa dari berbagai fakultas, pemuda dari berbagai daerah, akademisi, praktisi, hingga tokoh-tokoh yang memiliki pengalaman luar biasa di bidangnya masing-masing. Dari setiap pertemuan itu aku belajar bahwa setiap orang memiliki cerita dan perjalanan hidup yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan untuk dibandingkan, tetapi untuk dipelajari.
Aku mulai memahami bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada apa yang selama ini kulihat. Semakin banyak bertemu orang, semakin aku menyadari bahwa masih banyak hal yang harus kupelajari.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan selama semester ini adalah ketika aku dipercaya menjadi Moderator pada kegiatan Redesign Eco Creative 2026. Kesempatan tersebut tentu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagiku. Berdiri di depan peserta, memperkenalkan narasumber, menjaga jalannya diskusi, hingga memastikan suasana tetap hidup bukanlah pekerjaan yang sederhana. Sebelum kegiatan berlangsung, tentu ada rasa gugup. Aku terus mempersiapkan diri agar dapat menjalankan tugas tersebut dengan baik.
Namun ketika acara dimulai, rasa gugup itu perlahan berubah menjadi semangat. Aku menikmati setiap prosesnya. Aku belajar bahwa seorang moderator bukan hanya bertugas memegang mikrofon atau membacakan susunan acara. Lebih dari itu, moderator adalah jembatan antara narasumber dan peserta. Seorang moderator harus mampu mendengarkan, memahami situasi, menjaga alur diskusi, sekaligus membangun komunikasi yang nyaman agar semua orang merasa terlibat.Pengalaman tersebut menjadi salah satu pelajaran berharga yang semakin meningkatkan rasa percaya diriku untuk berbicara di depan umum.
Tidak lama setelah itu, Allah juga memberikan sebuah kabar yang sangat membahagiakan. Aku menerima Penganugerahan Mahasiswa Berprestasi Universitas Lambung Mangkurat Tahun 2026 pada Bidang Musabaqah Tilawatil Qur'an Mahasiswa (MTQM) Cabang Syarhil Qur'an. Ketika menerima penghargaan tersebut, tentu ada rasa syukur yang begitu besar.
Namun bagiku, penghargaan itu bukanlah garis akhir dari sebuah perjalanan. Penghargaan tersebut justru menjadi pengingat bahwa setiap proses yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menemukan hasilnya pada waktu yang tepat. Di balik sebuah penghargaan selalu ada latihan, waktu, usaha, dan doa yang mungkin tidak pernah dilihat oleh banyak orang.Momen tersebut menjadi salah satu penyemangat bagiku untuk terus belajar dan tidak cepat merasa puas terhadap apa yang sudah dicapai.
Semester kedua juga memberiku lebih banyak kesempatan untuk dipercaya menjadi Master of Ceremony (MC) maupun moderator dalam berbagai kegiatan. Setiap kegiatan tentu memiliki tantangannya masing-masing. Ada acara yang berlangsung formal, ada pula kegiatan yang membutuhkan suasana santai agar peserta lebih nyaman. Dari setiap pengalaman itu aku belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara dengan baik, tetapi juga tentang memahami siapa yang sedang kita ajak berbicara.
Aku belajar menyusun kalimat dengan lebih baik, mengatur intonasi, membangun suasana, hingga menjaga rasa percaya diri ketika berada di depan banyak orang. Pengalaman-pengalaman kecil tersebut secara perlahan membentuk kemampuan yang sebelumnya mungkin belum terlalu kusadari.
Jika dibandingkan dengan diriku beberapa bulan yang lalu, aku merasa ada banyak perubahan yang terjadi. Bukan perubahan yang besar, tetapi perubahan kecil yang perlahan membentuk diriku menjadi pribadi yang lebih percaya diri.
Hal lain yang juga sangat kusyukuri selama semester ini adalah kesempatan untuk tetap aktif di berbagai kegiatan kepemudaan. Bagiku, lingkungan seperti itu selalu menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Aku bertemu dengan banyak anak muda yang memiliki semangat, ide, dan cara berpikir yang berbeda-beda. Dari mereka aku belajar bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Aku percaya bahwa anak muda memiliki peran penting dalam membawa perubahan, sekecil apa pun bentuknya. Oleh karena itu, aku selalu berusaha untuk terus mengambil bagian dalam berbagai kegiatan yang mampu memberikan manfaat, baik bagi diriku sendiri maupun bagi orang lain.
Di sisi lain, kehidupan sebagai mahasiswa tentu tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada saat ketika jadwal kuliah terasa sangat padat. Ada tugas yang harus segera diselesaikan, laporan yang menunggu untuk dikumpulkan, presentasi yang harus dipersiapkan, hingga berbagai agenda lain yang datang hampir bersamaan. Terkadang aku harus belajar membagi fokus di antara banyak tanggung jawab.
Namun justru dari situlah aku memahami bahwa kehidupan tidak selalu tentang mencari waktu yang luang, melainkan tentang bagaimana memanfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik mungkin.
Aku juga merasa bersyukur karena dipertemukan dengan teman-teman yang saling mendukung selama menjalani perkuliahan. Diskusi di dalam kelas, mengerjakan tugas kelompok, saling bertukar pendapat, hingga sekadar berbincang setelah perkuliahan selesai menjadi bagian kecil yang membuat perjalanan ini terasa lebih menyenangkan. Kehadiran mereka menjadi salah satu alasan mengapa semester kedua terasa jauh lebih nyaman dibandingkan sebelumnya.
Semakin lama menjalani perkuliahan, aku juga mulai memahami bahwa nilai bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan seorang mahasiswa. Nilai memang penting, tetapi pengalaman, relasi, kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, hingga karakter yang dibentuk selama proses perkuliahan juga memiliki nilai yang sama berharganya.
Semester ini membuatku semakin yakin bahwa proses belajar tidak memiliki batas. Aku bisa belajar ketika berada di ruang kelas. Aku juga bisa belajar ketika menjadi moderator, bekerja sebagai wedding organizer, mengikuti seminar, berdiskusi dengan teman, maupun ketika bertemu dengan orang-orang baru yang memiliki pengalaman hidup berbeda.
Semuanya adalah ruang belajar.
Semakin banyak pengalaman yang datang, semakin aku menyadari bahwa perjalanan ini masih sangat panjang. Masih banyak hal yang belum kuketahui, masih banyak kemampuan yang harus terus diasah, dan masih banyak kesempatan yang ingin kuambil selama menjadi mahasiswa.
Ketika melihat kembali perjalanan selama semester kedua, aku merasa bahwa semester ini bukan hanya tentang berbagai kegiatan yang berhasil kuikuti ataupun penghargaan yang berhasil kuraih. Semester ini adalah tentang bagaimana aku mulai memahami diriku sendiri.
Aku mulai mengenali apa yang menjadi kekuatanku.
Aku mulai memahami apa yang masih harus kuperbaiki.
Aku mulai belajar untuk lebih menghargai waktu.
Aku mulai belajar menerima bahwa setiap proses membutuhkan kesabaran.
Dan yang paling penting, aku mulai menyadari bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten akan membawa kita menuju tempat yang lebih baik.
Aku tidak pernah tahu kesempatan apa yang akan datang di masa depan. Mungkin semester berikutnya akan menghadirkan tantangan yang lebih besar, tanggung jawab yang lebih banyak, atau pengalaman yang bahkan belum pernah kubayangkan sebelumnya. Namun satu hal yang ingin terus kupegang adalah semangat untuk belajar.
Aku ingin tetap menjadi mahasiswa yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga terus mencari pengalaman. Aku ingin tetap membuka diri terhadap berbagai kesempatan, terus bertemu dengan orang-orang hebat, dan terus belajar dari setiap perjalanan yang kulalui.
Karena pada akhirnya, dunia perkuliahan bukan hanya tentang memperoleh gelar sarjana.
Bagiku, dunia perkuliahan adalah ruang untuk membentuk cara berpikir, memperluas cara pandang, memperkuat karakter, dan mempersiapkan diri menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain.
Semester kedua telah mengajarkanku bahwa proses bertumbuh tidak selalu ditandai oleh sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan itu hadir melalui rutinitas sederhana yang dilakukan setiap hari. Melalui tugas yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh, tanggung jawab yang dijalankan dengan ikhlas, kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik, serta keberanian untuk terus mencoba hal-hal baru.
Kini, satu semester kembali berhasil kulewati.
Mungkin perjalanan ini masih sangat panjang. Masih ada banyak semester yang menunggu, banyak tantangan yang akan datang, dan tentu masih banyak cerita yang belum sempat kutuliskan.
Namun jika suatu hari nanti aku kembali membuka tulisan ini, aku berharap dapat mengingat bahwa pernah ada seorang mahasiswa bernama Muhammad Rizqi yang sedang berusaha menikmati setiap prosesnya. Seorang mahasiswa yang terus belajar, terus berjalan, dan percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini akan menjadi bagian dari cerita besar di masa depan.
Terima kasih, semester dua.
Terima kasih untuk setiap pelajaran, setiap kesempatan, setiap pertemuan, dan setiap cerita yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Sampai jumpa diperjalanan selanjutnya.



.jpeg)





.jpeg)
Komentar
Posting Komentar